Saya sering mendengar cerita dari beberapa
kawan pebisnis bahwa banyak anggota tim mereka yang kinerjanya jelek, malas-malasan, takut mengalami penolakan,
cepat down, kurang motivasi namun anehnya kawan-kawan saya tadi menganggap
bahwa hal seperti itu tidak bisa diubah. Daripada susah mengubah, mending ganti
karyawan. Rekrut lagi.
Bahkan banyak Leader yang ketika anggota timnya
mengalami masalah justru berfokus pada masalah, alih-alih memikirkan solusi dan
memperhatikan akar masalahnya. Kadang-kadang masalah dalam kinerja bukan hanya
semata-mata karena kompetensi & skill, melainkan hal lain yang lebih
kompleks di belakangnya.
Seringkali kita mengabaikan
masalah-masalah di atas yang mungkin
menurut kita tidak terlalu mengganggu & MENDIAMKANNYA dalam pikiran bawah sadar
karyawan, sampai suatu saat ketika timbul pemicunya, maka masalah tersebut
kembali muncul dan kita tidak mampu
mengendalikannya.
Hypnotherapy adalah metode yang TERBUKTI
mampu memulihkan akar permasalahan yang dialami seseorang dengan cara
menganalisis penyebab utama gejala & memberikan sugesti yang tepat sasaran
sehingga memberikan kesembuhan yang tetap & permanen.
Dalam menangani suatu kasus, seorang
hipnoterapis mesti jeli memahami situasi klien. Dus, juga mesti bisa memilah
antara situasi nyata dan keluhan. Sering kali klien datang dengan membawa setumpuk
keluhan, dengan emosi memuncak pula. Contoh sederhana adalah penduduk Jakarta
dan sekitarnya yang selalu mengatakan jalanan macet, transportasi massa jelek,
kondisi jalan yang sudah rusak sehingga mereka sering telat sampai kantor. Itu
semua adalah keluhan, karena akar masalah adalah mereka tidak bisa bangun pagi.
Teknik mutakhir yang sering digunakan oleh hipnoterapis belakangan ini adalah Brief Therapy. Konsep sederhana dari teknik ini adalah:
- Teknik coaching yang berorientasi kepada Outcome, bukan berorientasi kepada problem
- Tidak perlu mengintervensi masa lalu
- Memperkuat sisi positif untuk
melemahkan sisi negatif
Sebagai orang yang pernah puluhan tahun bekerja di sebuah perusahaan dan berhubungan dengan banyak karyawan, saya berpikir teknik brief therapy ini bisa juga digunakan untuk mengatur karyawan atau melakukan coaching dalam sebuah bisnis.
Saya akan share tekniknya di bawah ini.
I. Tentukan WFO (Well Formed Outcome) atau tujuan yang SMART (Spesific, Measurable, Action Oriented, Reasonable dan Time bound) yang ingin dicapai (biasanya ini adalah solusi dari masalah karyawan)
II. Sebagai coach maka kita perlu melatih beberapa pola pertanyaan yang bertujuan untuk memperoleh feedback dari Client/karyawan yang bermanfaat bagi proses problem solving sbb:
a. Miracle Question : Meminta karyawan membayangkan solusi ajaib bagi masalahnya. Biarkan mereka membebaskan imajinasinya dalam rangka menemukan solusi atas masalah mereka. Ini ibarat mengajak mereka melakukan brain storm. Tak ada yang salah. Catat semua keajaiban yang mungkin muncul sebagai jawaban atas masalah karyawan.
b. Coping Question: Meminta karyawan untuk mengingat langkah apa saja yang sudah dilakukan guna meyelesaikan masalah mereka. Tanyakan pula bagaimana hasil dari langkah yang sudah mereka lakukan. Tanyakan pula ada kemungkinan langkah yang sudah terpikir dan belum dilakukan, dan kira-kira bagaimana kans keberhasilannya. Dengan melakukan hal ini sebenarnya kita sudah melakukan empowerment dan menunjukkan trust kita kepada karyawan.
c. Scaling Question: Ini pertanyaan penting untuk melakukan kalibrasi atau sekedar mengukur kadar masalah karyawan. Contoh ada seorang karyawan yang merasa kurang percaya diri kalau harus menghadapi tamu. Scaling question juga berperan dalam pengukuran perkembangan karyawan, termasuk dalam pencapain sebuah solusi. Biarkanyang menentukan pengukuran karyawan kita, tugas kita adalah menunjukkan jalan ke arah yang sudah disepakati bersama
d. Exception Question: Dalam terapi biasanya ini adalah pertanyaan pamungkas yang mampu menemukan solusi atas masalah klien. Seringkali klien lupa bahwa mereka sebenarnya pernah melakukan hal yang menjadi solusi atas masalah mereka. Maka sebagai coach, tugas kita adalah menemukan pertanyaan yang tepat
Contoh kasus seorang karyawan yang merasa grogi setiap kali harus menemui pelanggan.
1. Miracle Question: ‘Seandainya ada sebuah keajaiban yang mampu membuat Anda percaya diri ketika menghadapi pelanggan, kira-kira seperti apa keajaiban tersebut?’
2. Coping Question: ‘Apa saja yang sudah Anda lakukan untuk meningkatkan rasa PD Anda. Bagaimana hasilnya? “Apakah masih ada rencana yang belum sempat dilakukan?”
3. Scaling Question: ‘Skala 1 sampai 10 dimana angka 1 menunjukkan Anda kurang PD, dan angka 10 menunjukkan Anda sangat PD, kira-kira di angka berapa perasaan Anda sekarang’
4. Exception Question: ‘Kira-kira ada nggak suatu momen di mana Anda bisa sangat PD, meski cuma sesaat?’ “Kapan?”
Dengan menguasai keahlian bertanya seperti ini
saja, Anda sudah bisa membantu karyawan Anda menemukan solusi atas situasi mereka tanpa terkesan menggurui mereka karena sebenarnya semua solusi datang
dari diri mereka sendiri. Keren apa keren?
Jika Anda seorang pebisnis dengan banyak karyawan, atau Anda seorang leader dengan banyak bawahan, maka ini saat yang tepat bagi Anda untuk belajar Hypnotherapy di tempat yang tepat dan kepada praktisi yang tepat pula.
Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist, Trainer, Happiness Life Coach
Penulis buku ‘Find The Happyness in YOU!’ & 'Find The Hypnotist in YOU!'